Dewasa ini kita tahu pada awal abad ke-21 ini trend isu lingkungan semakin meningkat terutama pada isu kenaikan suhu bumi yang sampai saat ini belum ada solusi yang konkrit. Kenaikan suhu berbanding lurus dengan mencairnya gunung es di kutub. Tercatat bahwa pada selama sekitar 5000-8000 tahun terakhir suhu bumi meningkat 2-4 derajat. Peningkatan suhu ini berbanding lurus dengan naiknya paras laut yang diakibatkan oleh mencairnya lapisan kutub. Penelitian dilakukan oleh tim yang terdiri atas 11 ilmuwan yang dipimpin ahli geologi Denmark, Nicolai Krog Larsen, yang dituliskan di jurnal Geology pada 18 Februari 2014. Penelitian ini menemukan hilangnya lapisan es mencapai 100 gigaton per tahun selama beberapa ribu tahun. Pada saat itu, kenaikan paras laut setara dengan 16 Centimeter saat temperatur naik 2-4 derajat celsius. Dari data ini kita sebagai orang normal yang masih punya hati nurani akankah dian dengan hal ini? Akankah kita biarkan generasi anak cucu kita tenggelam dengan berjalannya waktu? Kita tahu bahwa penentu generasi berikutnya adalah generasi sebelumnya, penentu generasi mendatang adalah generasi sekarang, ya generasi sekarang!!! Lalu pertanyaan selanjutnya apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan  generasi yang akan datang yaitu generasi anak cucu kita? Mari kita coba analisis dengan berbagai pendekatan. Kita awali dengan menganalisa faktor-faktor terkait.

Apa yang dimaksud dengan peningkatan suhu bumi?

Adakah keterkaitan antara peningkatan suhu bumi dengan keberadaan hutan?

Apa pengaruh keberadaan hutan terhadap kenaikan suhu bumi?

Bagaimana mekanisme timbal balik antara hutan dengan peningkatan suhu bumi?

Apa dampak dari panas bumi?

Peningkatan suhu bumi

efek rumah kaca 300x145 AKANKAH DUNIA TENGGELAM TANPA HUTAN ?

Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi yang terjadi adalah akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca, seperti: karbondioksida, metana, dinitro oksida, hidrofluorokarbon, perfluorokarbon, dan sulfur heksafluorida di atmosfer. Emisi ini terutama dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta akibat penggundulan dan pembakaran hutan. (Ramli Utina).

Matahari merupakan sumber energi utama dari setiap sumber energi yang terdapat di bumi. Energi matahari sebagian terbesar dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Energi ini mengenai permukaan bumi dan berubah dari cahaya menjadi panas. Permukaan bumi kemudian menyerap sebagian panas sehingga menghangatkan bumi, dan sebagian dipantulkannya kembali ke luar angkasa. Menumpuknya jumlah gas rumah kaca seperti uap air, karbon dioksida, dan metana di atmosfer mengakibatkan sebagian dari panas ini dalam bentuk radiasi infra merah tetap terperangkap di atmosfer bumi, kemudian gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Kondisi ini dapat terjadi berulang sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus Efek Rumah Kaca Gas-gas emisi (buangan) pabrik, kendaraan bermotor, dan buangan gas aktivitas manusia terakumulasi di atmosfer kemudian menangkap energi panas matahari dan menyebabkan suhu bumi meningkat. 4 meningkat. Gambar berikut menunjukkan bagaimana terjadinya pemanasan global (Gealson2007)

Mekanisme Hutan Menyerap Karbon

Menurut ilmu biologi kenapa hutan bisa menyerap karbon karena hutan adalah tempat sekumpulan pohon yang memiliki aktifitas biologisnya seperti fotosintesis dan respirasi. Dalam fotosintesis pohon (tanaman) menyerap CO2dan H2O dibantu dengan sinar matahari diubah menjadi glukosa yang merupakan sumber energi (sebelumnya diubah dulu melalui proses respirasi) tanaman tersebut dan juga menghasilkan H2O dan O2 yang merupakan suatu unsure yang dibutuhkan oleh oranisme untuk melangsungkan kehidupan (bernapas). Sehingga, hanya dengan mengetahui dan memahami hal tersebut kita harus sadar bahwa hutan sangat dibutuhkan manusia untuk menyerap carbon yang berlebih dalam atmosfer.

Mekanisme tanaman dalam menyerap carbon melalui fotosintesis. Fotosintesis adalah proses penyusunan energi menggunakan cahaya pada organisme yang memiliki kloroplas. Fotosintesis adalah prose kimia yang paling penting di bumi ini. Kebanyakan tanaman melakukan fotosintesis pada daunnya. Proses fotosintesis diawali dengan reaksi terang pada reaksi terang eneri matahari di convert ke chemical energi dan diproduksi oksigen. Lalu tahap yang kedua adalah siklus calvin yang membuat molekul gula dari karbon yang membutuhkan energi ATP yang didapat dari proses respirasi. Siklus ini juga membawa hasil produksi dari reaksi terang. (Campbell et all.2005)

Carbon sinks

Menurut beberapa literatur, carbon sinks, atau carbon dioxide sinks, adalah reservoir atau tempat untuk menyimpan atau menyerap gas karbon dioksida yang terdapat di atmosfer bumi. Hutan dan laut adalah tempat alamiah di bumi ini yang berfungsi untuk menjadi tempat menyerap gas karbon dioksida (CO2). Gas karbon dioksida diserap oleh tumbuhan yang sedang tumbuh dan disimpan di dalam batang kayunya.

Proses berpindahnya gas karbon dioksida dari atmosfer (ke dalam vegetasi dan lautan) biasa disebut sebagai carbon sequestration. Beberapa ahli di negara-negara maju saat ini banyak yang aktif meneliti tentang proses ini dan berharap menemukan sebuah cara efektif untuk membuat sebuah proses buatan dalam rangka mengurangi laju perubahan iklim global (mitigasi pemanasan global) yang menurut para ahli berada dalam level yang “cukup mencemaskan” abad ini.

Di Hutan, dalam proses fotosintesa, tanaman menyerap karbon dioksida dari atmosfer, menyimpan karbonnya dan melepaskan gas oksigennya kembali ke atmosfer. Hutan yang sedang tumbuh (hutan yang masih muda) akan berfungsi sangat baik sebagai carbon sinks, karena vegetasi di sana secara cepat akan menyerap banyak gas karbon dioksida pada proses fotosintesa dalam rangka tumbuh dan berkembangnya vegetasi. Vegetasi akan kembali melepaskan karbon dioksida ke atmosfer ketika mereka mati. Secara alamiah, dengan mengabaikan aktivitas manusia, proses terserap dan terlepasnya karbon dioksida ke atmosfer akan berjalan secara berimbang atau netral. Artinya, jumlah gas karbon dioksida di atmosfer relatif tetap terhadap waktu.

Aktivitas manusia, seperti penebangan dan pembakaran hutan, akan menjadikan karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer lebih besar daripada yang mampu diserap dan disimpan hutan, apalagi jika memperhitungkan jumlah pemakaian bahan bakar fosil yang semakin hari semakin meningkat. Konversi hutan menjadi daerah pertanian juga berperan sangat besar dalam proses kembalinya gas karbon dioksida ke atmosfer.

Dalam Protokol Kyoto, negara-negara yang memiliki hutan yang luas dapat mengambil keuntungan, dari sumberdaya hutannya tersebut, melalui skema perdagangan emisi. Dalam skema ini, akan ada negara yang berperan sebagai penjual emisi dan juga negara sebagai pembeli emisi. Saya sendiri kurang tahu sudah sejauh mana para negara penjual dan pembeli emisi ini membuat aturan main perdagangan emisi mereka. Jika ditinjau dari sumberdaya hutannya, Indonesia sebenarnya bisa berperan dan berpeluang cukup besar dalam perdagangan emisi ini, apalagi kalau kita bisa menjaga sumberdaya hutan kita dengan baik.

Potensi daya serap karbon hutan Indonesia

Potensi daya serap karbon hutan di Indonesia berbeda-beda, misalnya saja, telah diteliti bahwa satu hektare hutan mangrove menyerap 110 kilogram karbon dan sepertiganya dilepaskan berupa endapan organik di lumpur. Penebangan hutan mangrove menyebabkan pembebasan karbon, endapan ini akan tetap terisolasi selama ribuan tahun. Karena itu, perubahan mangrove menjadi tambak udang, seperti yang dilakukan sementara orang sekarang ini, akan mempercepat pelepasan karbon ke atmosfer pula. Maka, dengan mencegah penggundulan hutan, negara-negara berkembang dapat secara efektif mereduksi emisi dan menurunkan pemanasan global.

Mengurangi gas-gas rumah kaca dengan mekanisme pembangunan bersih (CDM) melalui teknologi bersih, reforestrasi, dan aforestrasi yang dilakukan oleh berbagai negara. Dengan kata lain, upaya mempertahankan hutan pengikat karbon adalah usaha mencegah ironi, yakni negara-negara berkembang yang mempunyai hutan alam, seperti hutan tropis, akan terus berkurang karena terus ditebang. Apabila hal ini terjadi, pencapaian target penurunan emisi rumah kaca akan menjadi sulit dan bias, karena di satu pihak mengadakan upaya perbaikan, sedangkan di pihak yang lain merusaknya.

Peningkatan Suhu Permukaan Laut dan Meningkatnya Siklon

Rata-rata suhu permukaan laut global mencapai rekor tertinggi, suhu terutama hangat di bagian barat Atlantik, serta kawasan tengah dan timur Pasifik. Meskipun kenaikan suhu permukaan laut tidak menyebabkan El nino tahun lalu, namun para ilmuwan meyakini bahwa peningkatan suhu permukaan laut akan menyebabkan El nino akan datang tahun 2015 khususnya di samudera Pasifik tropis.

Kenaikan suhu permukaan laut telah mendorong munculnya siklon tropis dari rata-rata yang terjadi, selama tahun 2014, terdapat 91 siklon tropis, meningkat dari 82 badai yang terjadi rata-rata selama dekade 1981-2010.

Peningkatan Suhu Lautan

Peningkatan suhu juga terjadi tidak saja di permukaan laut, tetapi juga pada suhu lautan. Suhu panas lautan telah mencapai rekor baru yang mencerminkan fakta bahwa lautan telah menyerap hingga 90 persen panas yang terperangkat oleh atmosfer bumi oleh gas rumah. Saat gas rumah kaca meningkat di atmosfer, maka hal ini akan menyebabkan suhu laut pun meningkat.

Kenaikan Muka Air Laut

peningkatan suhu laut 300x112 AKANKAH DUNIA TENGGELAM TANPA HUTAN ?

Permukaan laut juga memecahkan rekor baru. Kenaikan muka air laut sekarang saat ini diperkirakan sekitar 67 milimeter dari tahun 1993. Faktor-faktor yang menyebabkannya muka air laut ini diantaranya adalah karena mencairnya gletser dan es di permukaan laut, molekul air yang mengembang ketika suhu menjadi hangat serta terjadinya pencairan es di daratan yang airnya mengalir ke lautan.

Pencairan Es di Greenland dan Pemanasan Artik

Greenland, pulau terbesar di dunia yang tertutup oleh es abadi dilaporkan 90% esnya mulai mencair dengan kecepatan di atas rata-rata setelah musim dingin berakhir. Pada bulan Agustus 2014, rekor sinar matahari yang terpantul dari permukaan Greenland mencapai titik terendah. Pencairan es di permukaan daratan menggelapkan permukaan lapisan es itu, sehingga kurang mampu memantulkan energi matahari.

Demikian pula wilayah Arktik di lingkaran kutub utara dilaporkan terus menghangat. Wilayah Arktik mengalami tahun terpanas keempat sejak pencatatan dimulai pada awal abad ke-20. Salju Arktik rata-rata mencair 20-30 hari lebih awal dari 1998-2010. Di utara Alaska, suhu rekor tertinggi yang dipantau melalui empat dari lima observatorium permafrost.

Wilayah es di Arktik ‘hanya’ mencapai 1,94 juta mil persegi pada 17 September, atau terendah sejak pengamatan satelit dimulai pada tahun 1979. Ini merupakan kedelapan kalinya berturut-turut luasan es semakin berkurang dalam delapan tahun terakhir.

Kawasan Laut yang Tertutup Es di Antartika

Apa yang terjadi di belahan bumi selatan juga menunjukkan fenomena perubahan iklim. Kawasan laut yang tertutup es justru semakin meluas, dimana pada tahun 2014 merupakan rekor terluas. Pada 20 September 7,78 juta mil persegi melebihi 7,56 juta mil persegi pada tahun 2013. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut dari rekor es laut maksimum batas.

Salah satu alasan yang bisa menjelaskan hal ini adalah perubahan pola arah angin. Angin menghempaskan es-es yang berada di pinggir laut yang kemudian membeku dan menutupi permukaan lautan, tanpa adanya daratan yang cukup tinggi untuk menghalangi arah angin, hal ini akan terus terjadi. Meskipun hal ini seolah-olah terdengar kontradiktif dengan ide planet pemanasan, namun justru hal ini menunjukkan potensi pergeseran atmosfer yang diakibatkan perubahan iklim.

Kenaikan suhu 2-4 derajat celsius (http://nationalgeographic.co.id)

panas bumi tahun 1888 2014 300x213 AKANKAH DUNIA TENGGELAM TANPA HUTAN ?

Kenaikan suhu bumi 2-4 derajat celsius memicu kenaikan paras laut global 16 sentimeter. Kenaikan akibat mencairnya es pada Lapisan Es Greenland.

Demikian penelitian tim yang terdiri atas 11 ilmuwan yang dipimpin ahli geologi Denmark, Nicolai Krog Larsen, yang dituliskan di jurnal Geology pada 18 Februari.

Tim mendasarkan perhitungan dari perilaku Lapisan Es Greenland pada 5.000-8.000 tahun lalu. Temperatur saat itu yang tertinggi, 2-4 derajat celsius lebih tinggi dari suhu bumi sekarang. Tebal lapisan bervariasi sejak Zaman Es berakhir 11.500 tahun lalu sehingga jejaknya hilang.

”Kami menghitung massa yang hilang selama pemanasan di masa lalu dengan mengombinasikan catatan sedimen danau dengan pemodelan canggih,” ujar Kurt Kjær, dari Museum Sejarah Alam Denmark. Penelitian dilakukan di enam musim panas.

Periode 8.000-5.000 tahun lalu dipilih karena saat itu suhu permukaan lebih tinggi 2-4 derajat celsius dari suhu sekarang.

Ukuran Lapisan Es Greenland saat itu mencapai ukuran terkecilnya. Berdasarkan pengetahuan itu, mereka menguji lagi semua model lapisan es yang ada dan memilih yang terbaik untuk menggambarkan ulang kondisi pemanasan pada masa lalu.

Kenaikan muka laut

kenaikan air laut tahun 1999 2014 300x187 AKANKAH DUNIA TENGGELAM TANPA HUTAN ?Dari perhitungan menggunakan model, tampak bahwa pada periode itu kecepatan hilangnya lapisan es mencapai 100 gigaton per tahun selama beberapa ribu tahun. Pada saat itu, kenaikan paras laut setara dengan 16 sentimeter saat temperatur naik 2-4 derajat celsius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *