Sumber : http://bogor.tribunnews.com/2017/11/27/guru-besar-ipb-95-persen-manfaat-hutan-terbuang-percuma

23824659 155379168528432 2296954192142532608 n 300x203 Guru Besar IPB : 95 Persen Manfaat Hutan Terbuang PercumaHutan Indonesia dapat menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Namun demikian, berdasarkan riset tim peneliti Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB), potensi sumberdaya hutan yang sangat besar tersebut, baru 5 persen yang telah dimanfaatkan. Selebihnya 95 persen terbuang sebagai pemborosan.

Menurut Guru Besar Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB, Prof. Dr. Dudung Darusman dalam materi orasi ilmiahnya di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor (25/11) mengatakan Indonesia masih memiliki sumberdaya hutan yang sangat besar, tetapi masih belum optimum memberi kontribusi bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Hal itu akibat masih belum utuh dan komprehensifnya landasan pemikiran ekonomi di dalam pengurusannya.

“Wilayah hutan itu merupakan ekosistem hutan hujan tropika yang sangat kaya keragaman hayatinya, baik berupa flora, fauna, maupun mikroba, yang banyak berpotensi sebagai bahan baku bagi berbagai ragam industri yang sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, hutan juga bisa menghasilkan padi gogo, sagu, ubi kayu, arairut, ganyong, sukun, ubi jalar, jagung, kacang tanah, kedelai, talas, ubi warna, suweg/porang, dan sebagainya. 

Kebijakan pengurusan hutan Indonesia selama ini telah membuat sumberdaya hutan Indonesia yang melimpah itu hanya mampu memberikan manfaat ekonomi dan kesejahteraan yang sangat rendah. Pengelolaan hutan Indonesia hanya menghasilkan produk tunggal, memenuhi kepentingan tunggal, dengan skala usaha besar dan tidak melibatkan pelaku usaha lokal.

Menurutnya, potensi peningkatannya bisa meningkat 20 kali lipat dari sekarang yang hanya 5 persen, yakni dengan arahan ilmu ekonomi pengurusan hutan yang komprehensif dan integral, hutan ke depan harus dikelola sebagai ekosistem yang menghasilkan produk majemuk. Untuk memenuhi kepentingan manusia yang juga majemuk, diusahakan oleh pelaku sekala kecil di tingkat tapak, dilakukan oleh keluarga atau pelaku usaha lokal, dan ditata dalam struktur jejaring pengusahaan yang terpadu dan membesar pada level nasional.

“Saya mengajak seluruh ahli pertanian dalam arti luas untuk mencurahkan perhatian, pemikiran serta uluran tangan. Bersama profesi kehutanan membangun kebersamaan dan kerja sama dalam memanfaatkan berbagai kemajuan IPTEKS pertanian mutakhir untuk pengurusan sumberdaya hutan secara optimal,” tandasnya. (zul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *