Gaylord Nelson, Tumpahan Minyak, dan Sejarah Hari Bumi

IMG 20180317 164417 300x225 300x225 Gaylord Nelson, Tumpahan Minyak, dan Sejarah Hari BumiHari Bumi menjadi penyaluran energi dari gerakan antiperang dengan menempatkan kekhawatiran mengenai lingkungan di garis depan.

sebuah hari yang juga diperingati oleh seluruh umat manusia di dunia, yakni Hari Bumi — yang menandai halaman baru dalam gerakan lingkungan modern.

Sampai saat ini semakin banyak pihak dan gerakan yang bersuara secara lantang menuntut kita semua untuk semakin peduli terhadap “rumah” tempat kita berlindung. Berbagai media juga menampilkan usaha berbagai pihak dalam menjaga bumi. Anak kecil hingga orang dewasa turut mengunggah materi terkait hari bumi ke dalam linimasa digital mereka. Read more

Mama Aleta Baun, Pahlawan Lingkungan yang Menjaga Bumi NTT Lewat Kain Tenun

Sumber : https://astralife.co.id/ilovelife/mama-aleta-baun-pahlawan-lingkungan-yang-menjaga-bumi-ntt-lewat-kain-tenun/

mama aleta 300x201 300x201 Mama Aleta Baun, Pahlawan Lingkungan yang Menjaga Bumi NTT Lewat Kain TenunSebagian besar masyarakat Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air. Batu, hutan, dan air menjadi simbol marga dan martabat bagi warga setempat. Karena itu, mereka terusik ketika wilayahnya terancam akibat penambangan. Salah satu masyarakat Mollo yang berdiri di garda terdepan adalah Aleta Baun atau sering dipanggil Mama Aleta. Marga Baun sendiri diambil dari unsur air.
Sejak kecil, Aleta diajarkan leluhurnya bahwa alam mengandung nyawa sehingga harus dilindungi. Mereka mengibaratkan alam seperti manusia. Tanah dilambangkan sebagai daging, air sebagai darah, batu sebagai tulang, dan hutan sebagai nadi dan rambut. Karena itu, Aleta marah ketika alam sekitarnya terancam. Read more

Mahasiswa IPB Raih Best Paper di Malaysia

Sumber : https://youngster.id/news/mahasiswa-ipb-raih-best-paper-di-malaysia

IPB Elbis 300x199 Mahasiswa IPB Raih Best Paper di MalaysiaMahasiswa Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) Mahtuf Ikhsan meraih Best Paper dalam ‘5th International Conference on Education, Law, Business and Interdiciplinary Research (ELBIS)’ di Kuala Lumpur, Malaysia.

Penghargaan ini diraih Mahtuf atas makalahnya yang berjudul ‘The Role of Institution of Aspect to Create Community Forest Sustainability in Bogor Regency Indonesia’. Melalui tulisan tersebut, Mahtuf mengungkapkan keinginannya mengintegrasikan proses produksi dengan industri.

“Produksi dari hutan kemasyarakatan bisa langsung terhubung dengan industri, sehingga hubungan pada fasilitas dan pendanaan hutan rakyat dapat berinteraksi dengan industri,” ujarnya seperti dilansir dari laman IPB baru-baru ini. Read more

Pemanfaatan Air Hujan sebagai Air Layak Minum

air hujan untuk manusia 300x190 300x190 Pemanfaatan Air Hujan sebagai Air Layak MinumAir bersih berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Air tidak hanya berpengaruh pada kebutuhan rumah tangga, tetapi berpengaruh pula pada sektor sosial, ekonomi, maupun fasilitas umum, seiring dengan tingkat pertumbuhan penduduk (Nelwan dan Tanudjaja 2013). Diperkirakan lebih dari 2 milyar manusia/hari terkena dampak kekurangan air di dunia. Di Indonesia, jumlah penduduk lebih dari 200 juta namun 119 juta penduduk belum memiliki akses terhadap air bersih layak konsumsi sedangkan kebutuhan diperkirakan meningkat hingga 15-35%/kapita/tahun (Untari dan Kusnadi 2015).

Sementara itu potensi air hujan di Indonesia cukup besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Meskipun curah hujan sangat bervariasi di berbagai daerah, rentang curah hujan berkisar 105 – 5.652 mm dan jumlah hari hujan berkisar 68 – 230 hari per tahun selama kurun waktu 2006 – 2011. Dengan tingkat curah hujan yang mencapai 1.300 mm, air hujan mempunyai potensi sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan domestik (minum, masak, mandi dan cuci). Read more

Ekosistem Keras Hutan Kerangas

kerangas 300x225 300x225 Ekosistem Keras Hutan KerangasProses evolusi yang terjadi dalam ribuan bahkan puluhan ribu tahun telah menyebabkan pohon-pohon di hutan tropis beradaptasi dengan tanah yang miskin unsur hara dan nutrisi. Salah satunya di daratan Kalimantan atau Borneo. Jika di pulau-pulau lainnya di Indonesia, lapisan atas tanah (top soil) umumnya disuburkan oleh abu dan material vulkanik, di Kalimantan, vegetasi tersebut harus berjuang untuk menyerap nutrisi dari tanah yang sangat tipis lapisan suburnya. Pada umumnya kondisi seperti ini dimiliki oleh hutan kerangas.

Hutan kerangas adalah hutan yang memiliki lahan ekstrem dan rawan atau sangat peka terhadap gangguan seperti kebakaran. Kata “Kerangas” berasal dari bahasa Dayak Iban yang memiliki arti “tanah yang tidak dapat ditanami padi”. Julukan ini diberikan karena substrat tanah yang terbentuk sangat miskin unsur hara sampai – sampai padi tidak dapat ditanam. Karena kondisi yang ekstrem, vegetasi yang mampu bertahan di hutan kerangas umumnya memiliki pola adaptasi yang luar biasa. Read more