Halal Bil Halal di Lingkungan IPB

Foto HBH 300x169 Halal Bil Halal di Lingkungan IPBRektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr. Herry Suhardiyanto menyampaikan permohonan maaf kepada segenap warga IPB dalam acara Halal Bil Halal IPB Perayaan Idul Fitri 1437 H, Rabu (13/7). Acara yang digelar di Graha Widya Wisuda Kampus IPB Darmaga Bogor ini mengangkat tema “Rekatkan Hati Menuju Harmoni”.
Dalam sambutannya rektor mengatakan, bulan Ramadan merupakan bulan penuh nilai kesholihan juga nilai-nilai sosial. “Alhamdulillah setiap bulan Ramadan,  IPB rutin melakukan santunan kepada anak yatim dan dhuafa di 17 desa lingkar kampus, dan kepada para anak yatim dari warga IPB,” ujarnya.

Read more

Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB Diluncurkan di India

Satelit LAPAN 200x300 Satelit LAPAN A3/LAPAN IPB Diluncurkan di IndiaSetelah mengalami penundaan selama 12 hari, akhirnya pada hari Rabu (22/6), generasi terbaru satelit eksperimen LAPAN-A3/LAPAN-IPB diluncurkan dari Bandar Antariksa Sriharikota, India. Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB ini diluncurkan menggunakan roket peluncur PSLV milik ISRO-India bersama-sama dengan 21 satelit lain yang berasal dari berbagai negara.
Satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB dikembangkan atas kerjasama LAPAN dan Institut Pertanian Bogor dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan, perancangan dan pembangunan satelit oleh bangsa Indonesia agar  mampu menguasai teknologi keantariksaan, baik untuk tujuan eksperimental maupun operasional. LAPAN bertanggung jawab dalam desain, perancangan, produksi, pengujian, peluncuran, sampai penerimaan data satelit. IPB bertanggung jawab dalam pengembangan algoritma, pemanfaatan, dan aplikasi data satelit.
Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, desain, perancangan, produksi, dan pengujian LAPAN-A3/LAPAN-IPB dilakukan oleh ahli Indonesia dengan fasilitas di Indonesia. Produksi satelit memakai fasilitas yang ada di LAPAN dan pengujian  dengan fasilitas Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Read more

FMSC Menuju EHHBK 2016

HHBK3 300x104 FMSC Menuju EHHBK 2016

Eksplorasi Hasil Hutan Bukan Kayu (E-HHBK) merupakan salah satu program kerja dari himpunan profesi Forest Management Students’ Club periode 2015-2016 dibawah naungan Divisi Keprofesian, yaitu salah satu kegiatan inventarisasi sumberdaya hutan untuk mengidentifikasi dan menduga potensi hasil hutan bukan kayu yang terdapat di kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi , Jawa Timur. Kegiatan ini melibatkan dua bidang fokus keilmuan Manajemen Hutan yang dituangkan dalam bentuk Kelompok Studi (KS) yaitu KS Pemanfaatan dan KS Perencanaan. Eksplorasi Hasil Hutan Bukan Kayu (E-HHBK) juga merupakan kegiatan eksplorasi yang bertujuan untuk mengenalkan jenis-jenis beserta sebaran hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang ada di kawasan hutan dan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh pihak pengelola kawasan hutan dalam perencanaan pengelolaan kawasan hutan tersebut. EHHBK tahun ini akan lebih difokuskan untuk megkaji potensi liana cabai jawa dikarenakan potensinya yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Read more

Ecological Social Mapping

ESM 2016 300x180 Ecological Social MappingESM 2016 atau Ecological Social Mapping 2016 merupakan program kerja Forest Management Students’ Club (FMSC) di bawah naungan divisi keprofesian. Program kerja ini menyatukan berbagai kelompok studi (KS) yang ada di FMSC, yaitu KS Perencanaan, KS Sosek (Sosial Ekonomi Kebijakan Kehutanan), dan KS Hidrologi. Penyatuan berbagai KS ini karena KS tersebutlah yang memiliki keilmuan yang bisa diterapkan di program kerja ESM.

Program kerja FMSC ini dimulai pada tahun 2011. Sebelum ESM yang ke-5 pada tahun 2015, kelompok studi yang tergabung dalam program kerja ini ada empat, yaitu ditambah dengan KS Pemanfaatan. Namun pada tahun 2015 saat ESM ke-5, KS Pemanfaatan tidak ikut serta lagi dalam program kerja ini karena memiliki prgram kerja yang lebih khusus, yaitu Eksflorasi Hasil Hutan Bukan Kayu (EHHBK). Read more

HOW FOREST INFLUENCE CLIMATE CHANGE MITIGATION

gambar climate 4 300x171 HOW FOREST INFLUENCE CLIMATE CHANGE MITIGATIONMitigasi Perubahan iklim adalah usaha pengendalian untuk mencegah terjadinya perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi atau meningkatkan penyerapan gas rumah kaca yang terjadi saat ini. Perubahan iklim ini dapat berakibat pada perubahan cuaca dan menyebabkan terjadinya bencana alam. Indonesia sebagai negara tropika menyatakan  komitmennya  dalam upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26% pada tahun 2020 dengan skenario Business As Usual,  dan sebanyak 41% dengan dukungan sektor internasional pada sektor energi terutama di sektor kehutanan.

Peran kehutanan dalam mitigasi perubahan iklim adalah untuk mengurangi emisi dan meningkatkan serapan GRK terutama C02 melalui proses fotosintesis. Jumlah GRK yang terlalu banyak di permukaan bumi dapat memicu ketidakstabilan suhu bumi dan berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Kelebihan panas yang terperangkap inilah yang kemudian menyebabkan suhu bumi meningkat yang kemudian dapat mempengaruhi variabel-variabel cuaca yang ada, seperti kekuatan angin dan intensitas hujan. Gas rumah kaca (GRK) bersumber dari dalam troposfer yang poses pembentukannya dapat terjadi secara alami maupun sebagai akibat pencemaran. Read more